Rabu, 29 April 2015


Rembulan di atas kepala,menghantar kesunyian dalam dekapan 
Riuh ombak menepikan kerisauan,, kerisauan akan hati yang membisu.
Tetesan embun menemani kesunyian Raga di tepian bukit 
Tanya berganti kebencian,bahkan rindu berucap serapah




Sabana kini merindu embun, hingga surya tak tergubris olehnya.
Adakah kerinduan dapat terjawab? Atau hanya menjadi mimpi semata?
Dari sudut kelopak mata, mengalir tetesan asin.
Bergambar duka dari pulau seribu bukit.
Bahkan tidu hai menjadi terlupakan, dan hinggi terlipat rapuh.
Sejuta tambur dan ana mongu (gong) telah hancur, hancur termakan waktu.
Mereka berkata gila kepada mereka yang lainnya.
Hanya harap yang masih digenggam. Mungkin telah terlupakan.

Mereka lupa “kalumbut yang hilang”, mereka acuhkan “Mimpi pelarian sabana”... mungkin rindu dari “perawan cendana” akan dikenang sejenak dalam lamunan mereka yang terkenang 

Tagged:

0 komentar :

Posting Komentar