Mengalir
lagi tetesan kematian.
Memenuhi
cangkir dan hati yang telah kosong.
Pahit,
sepat, panas dan menusuk telah terteguk.
Seraya
menghanyutkan tangis yang tertahan.
Malam menjadi semakin ganas.
Ribuan embun berpesta membasahi kepala.
Asap dan kabut bergumul mesra, menghadirkan kebingungan.
Lirik lagu
usang yang coba dinyanyikan, telah menambah kepiluan tulang-tualng rawan yang
teramat rapuh.
Kertakan
geraham yang berarti amarah, seperti tak pernah dihiraukan hembusan angin
malam.
Dan
beberapa detik yang telah berlalu hanya meninggalkan jejak-jejak kaki dari
kehancuran.
Lelaki yang tegak berdiri di depan malam, seperti gusar akan
waktu yang akan datang.
Waktu yang membawa cemeti keterpurukan dan perisai keraguan.
Mengincar hati sang lelaki untuk dijadikan budak kesendirian.
Apakah
mentari dan rembulan yang berteman sejuta bintang akan memberikan pertolongan?
Ataukah
mereka akan terdiam ketakutan dan menjauhi sang lelaki?
Wahai lelaki yang tegak berdiri di tepian malam.
Ambillah dayungmu dan kayuhlah sampan-mu melewati sungai
tetesan kematian,,,, hingga engkau melewati lautan pahit, sepat, panas dan
menusuk... Hanya untuk menemukan sebilah pedang harapan yang akan menemanimu
melewati dan memenangkan pertikaian dengan hari esok.
Dan ingatlah, sebuah perhatian yang kausajikan hanya akan
mengundang segerombolan penyesalan yang datang tak ada hentinya dan tak ada habisnya.
31agt-1sept
2014
0 komentar :
Posting Komentar