Selasa, 07 Juli 2015

Mengalir lagi tetesan kematian.
Memenuhi cangkir dan hati yang telah kosong.
Pahit, sepat, panas dan menusuk telah terteguk.
Seraya menghanyutkan tangis yang tertahan.
Malam menjadi semakin ganas.
Ribuan embun berpesta membasahi kepala.
Asap dan kabut bergumul mesra, menghadirkan kebingungan.
Lirik lagu usang yang coba dinyanyikan, telah menambah kepiluan tulang-tualng rawan yang teramat rapuh.
Kertakan geraham yang berarti amarah, seperti tak pernah dihiraukan hembusan angin malam.
Dan beberapa detik yang telah berlalu hanya meninggalkan jejak-jejak kaki dari kehancuran.
Lelaki yang tegak berdiri di depan malam, seperti gusar akan waktu yang akan datang.
Waktu yang membawa cemeti keterpurukan dan perisai keraguan.
Mengincar hati sang lelaki untuk dijadikan budak kesendirian.
Apakah mentari dan rembulan yang berteman sejuta bintang akan memberikan pertolongan?
Ataukah mereka akan terdiam ketakutan dan menjauhi sang lelaki?
Wahai lelaki yang tegak berdiri di tepian malam.
Ambillah dayungmu dan kayuhlah sampan-mu melewati sungai tetesan kematian,,,, hingga engkau melewati lautan pahit, sepat, panas dan menusuk... Hanya untuk menemukan sebilah pedang harapan yang akan menemanimu melewati dan memenangkan pertikaian dengan hari esok.
Dan ingatlah, sebuah perhatian yang kausajikan hanya akan mengundang segerombolan penyesalan yang datang tak ada hentinya dan tak ada habisnya.
31agt-1sept 2014