Kamis, 16 April 2015

Senja perlahan menghampiri raga.
menertawakan kesedihan hati.
Bukit-bukit cadas bergetar sendu
ilalang berdansa pilu.

kata-kata sederhana sering kita dengarkan.
bak lantunan nada dari Tukku yang tak bertuan.
Anamongu(gong) kini tak berdengung.
ana kiada matanggu pawanggu (anak gembala) merapatkan badan pada pohonan, memagut mesra kesedihan.

derai hujan tangis membasahi secarik kertas,
memusatkan hujat pada kata.
berang hati akan dakwaan
melapangkan dada akan keharusan

hari esok mungkin tak tertapaki bersama Cemara
karna Cemara telah dituliskan kisahnya
hanya lantunan mada-mada dalam safaat,
mengharap pelangi dalam genggaman

Tepian laut begitu luas,tapi tepian hati hanya secuil
menepikan semua biduk harap pada ajal
hingga habislah semua mahkota-ku saat daging beraroma tanah
kisah, kasih, harap dan sumpah akan abadi sebagai "CEMARA DI TEPIAN RASA".

dhayu

Tagged:

0 komentar :

Posting Komentar