AKU RAPOPO

(AKU RAPUH PORAK PORANDA)

KAUM KIRI

DENGARRLAH SUARA KAMI

KENANGAN TERAKHIR

SAAT BERSAMA DI MONDU LAMBI

PERBUKITAN UMA MANU

SELAYANG PANDANG PANTAI MONDU LAMBI

ANAK KARANG

RINTIHAN ANAK KARANG TENGGARA

Selasa, 07 Juli 2015

Mengalir lagi tetesan kematian.
Memenuhi cangkir dan hati yang telah kosong.
Pahit, sepat, panas dan menusuk telah terteguk.
Seraya menghanyutkan tangis yang tertahan.
Malam menjadi semakin ganas.
Ribuan embun berpesta membasahi kepala.
Asap dan kabut bergumul mesra, menghadirkan kebingungan.
Lirik lagu usang yang coba dinyanyikan, telah menambah kepiluan tulang-tualng rawan yang teramat rapuh.
Kertakan geraham yang berarti amarah, seperti tak pernah dihiraukan hembusan angin malam.
Dan beberapa detik yang telah berlalu hanya meninggalkan jejak-jejak kaki dari kehancuran.
Lelaki yang tegak berdiri di depan malam, seperti gusar akan waktu yang akan datang.
Waktu yang membawa cemeti keterpurukan dan perisai keraguan.
Mengincar hati sang lelaki untuk dijadikan budak kesendirian.
Apakah mentari dan rembulan yang berteman sejuta bintang akan memberikan pertolongan?
Ataukah mereka akan terdiam ketakutan dan menjauhi sang lelaki?
Wahai lelaki yang tegak berdiri di tepian malam.
Ambillah dayungmu dan kayuhlah sampan-mu melewati sungai tetesan kematian,,,, hingga engkau melewati lautan pahit, sepat, panas dan menusuk... Hanya untuk menemukan sebilah pedang harapan yang akan menemanimu melewati dan memenangkan pertikaian dengan hari esok.
Dan ingatlah, sebuah perhatian yang kausajikan hanya akan mengundang segerombolan penyesalan yang datang tak ada hentinya dan tak ada habisnya.
31agt-1sept 2014

Selasa, 09 Juni 2015

Kemana???????

Berjalan dengan langkah sendu.
Berjalan dengan tertatih, dan hati meringis.
Beberapa anjing hanya menertawakan cerita hatiku.
Berkoar-koar tentang kebodohan dan kesombongan mereka.

Mungkin itu adalah hakikat dari karakter mereka yang berusaha menjadi beringas tetapi sebenarnya mereka adalah hewan-hewan yang berusaha menertawakan kebodohan mereka.
Menilik sejuta asa  yang terlanjur melebur dalam kegilaan mereka.
Ah,,,, adakah mereka mengerti tawa mereka yang teramat memekikkan kuping?
adakah mereka memahami sejuta kesan yang menghitamkan kalbu???

anjingpun meratap pilu saat menatap bebatuan yang kian kerontang diantara rerumputan ...



BANYAK CITA DAN CERITA DI SINI, TANAH KITA MASA DEPAN KITA

Banyak kali seseorang melakukan perjalanan dan hanya meninggalkan sejuta cerita kisah kebahagiaan yang mereka ceritakan  kepada orang lain. cerita itu banyak meninggalkan sejuta kesan di benak orang lain dan memberikan sensasi penasaran yang luar biasa bagi orang lain.
Dari balik rerumputan kering, kisah kami terkuak dan eksploitasi ke dalam mimpi para pencari,,, hingga kisah kami menjadi buah bibir diantara beberapa dari mereka yang mengerti arti kenikmatan
mungkin kisah canda dan tawa yang pernah kami nikmati saat lalu, takaan terulang lagi.
Hanya tersisa angan dan harapan saja yang merasuk jauh di dalam dada.
arus air yang kami yang kami seberangi, tebing karang yang kami panjat dan be-batuan karang tajam yang memerahkan tapak-tapak kaki kami, tidak pernah menyurutkan langkah dan hasrat kami untuk menikmati secercah karya kebesaran sang Esa.
Banyak senyum dan banyak pelajaran yang kami dapatkan dari mereka yang ter marjinal-kan. mereka bukan ter marjinal-kan,,tetapi mereka sengaja di-marjinal-kan. Mereka yang dahulunya berjanji  kemerataan,, hanya tetap menjanjikan apa yang menjadi mimpi dari setiap  umat manusia.
Ahhhhhhhhhhhh............ bosan kami mendengar janji manismu yang sejatinya adalah serapah bagi kami kaum kecil.
#dh

Rabu, 29 April 2015


Rembulan di atas kepala,menghantar kesunyian dalam dekapan 
Riuh ombak menepikan kerisauan,, kerisauan akan hati yang membisu.
Tetesan embun menemani kesunyian Raga di tepian bukit 
Tanya berganti kebencian,bahkan rindu berucap serapah




Sabana kini merindu embun, hingga surya tak tergubris olehnya.
Adakah kerinduan dapat terjawab? Atau hanya menjadi mimpi semata?
Dari sudut kelopak mata, mengalir tetesan asin.
Bergambar duka dari pulau seribu bukit.
Bahkan tidu hai menjadi terlupakan, dan hinggi terlipat rapuh.
Sejuta tambur dan ana mongu (gong) telah hancur, hancur termakan waktu.
Mereka berkata gila kepada mereka yang lainnya.
Hanya harap yang masih digenggam. Mungkin telah terlupakan.

Mereka lupa “kalumbut yang hilang”, mereka acuhkan “Mimpi pelarian sabana”... mungkin rindu dari “perawan cendana” akan dikenang sejenak dalam lamunan mereka yang terkenang 



terpisahkan sebataang kayu


malam telah lewat.
Pagi berganti,rasa menetap.
Merenung dalam duka
duka tak cacat

 

Kebahagiaan dalam benak
Negeri mentari dalam angan
Terlukis perih sempurna
mungkin cendana aroma kemenyan

 

serapah manis terteguk mentah
setapak rintih terjajaki
pelangi kelam menghias
sepanjang Setapak bertabur luka

 

Ilmu bak sampah
onggokan karang menjadi nisan tak bertuan
Rasa tak diajak,bukan sesaat
lapang tanah menggambar hati
Rambu,ini aku duka dalam tempayan

Kamis, 16 April 2015

Senja perlahan menghampiri raga.
menertawakan kesedihan hati.
Bukit-bukit cadas bergetar sendu
ilalang berdansa pilu.

kata-kata sederhana sering kita dengarkan.
bak lantunan nada dari Tukku yang tak bertuan.
Anamongu(gong) kini tak berdengung.
ana kiada matanggu pawanggu (anak gembala) merapatkan badan pada pohonan, memagut mesra kesedihan.

derai hujan tangis membasahi secarik kertas,
memusatkan hujat pada kata.
berang hati akan dakwaan
melapangkan dada akan keharusan

hari esok mungkin tak tertapaki bersama Cemara
karna Cemara telah dituliskan kisahnya
hanya lantunan mada-mada dalam safaat,
mengharap pelangi dalam genggaman

Tepian laut begitu luas,tapi tepian hati hanya secuil
menepikan semua biduk harap pada ajal
hingga habislah semua mahkota-ku saat daging beraroma tanah
kisah, kasih, harap dan sumpah akan abadi sebagai "CEMARA DI TEPIAN RASA".

dhayu
 Hari yang pernah dilalui dengan sebait kata suci, membawa sejuta harapan akan tempat kita bersama.

mungkin Tuhan akan menangis jika melihat rumahNya begitu reot.

lafalkan kata-kata suci nan indah,merangkak keluar dari dalam hati, seraya mengharapkan Sang Kuasa memperhatikan rumahNya.

lonceng pemanggilan, menghentakkan tebing di barat dan perbukitan di timur.
adakah rindu itu sejati?
adakah rindu itu dari lubuk jiwa?
ataukah rindu itu hanya rutinitas yang relatif???


Engkau Yang paling Mengerti suara di celah bebatuan cadas ini.
Bukan bangunan yang mencerminkan hati kami,,,tapi kerinduan kami adalah jawabnya.
 

Tiada guna ku mencari diriMu ya Raja di dalam rumah megah,sedangkan Kau telah hadir di rumah reot yang sudah ku jejaki di hari kemarin.



berperkaralah atas hati kami, dan tegurlah mereka ya Sang HAKIM AGUNG.
kerinduan ini menjadi mimpi yang dilarikan di belantara Sabana. di tanah yang dijuluki tanah para marapu