Rabu, 29 April 2015


Rembulan di atas kepala,menghantar kesunyian dalam dekapan 
Riuh ombak menepikan kerisauan,, kerisauan akan hati yang membisu.
Tetesan embun menemani kesunyian Raga di tepian bukit 
Tanya berganti kebencian,bahkan rindu berucap serapah




Sabana kini merindu embun, hingga surya tak tergubris olehnya.
Adakah kerinduan dapat terjawab? Atau hanya menjadi mimpi semata?
Dari sudut kelopak mata, mengalir tetesan asin.
Bergambar duka dari pulau seribu bukit.
Bahkan tidu hai menjadi terlupakan, dan hinggi terlipat rapuh.
Sejuta tambur dan ana mongu (gong) telah hancur, hancur termakan waktu.
Mereka berkata gila kepada mereka yang lainnya.
Hanya harap yang masih digenggam. Mungkin telah terlupakan.

Mereka lupa “kalumbut yang hilang”, mereka acuhkan “Mimpi pelarian sabana”... mungkin rindu dari “perawan cendana” akan dikenang sejenak dalam lamunan mereka yang terkenang 



terpisahkan sebataang kayu


malam telah lewat.
Pagi berganti,rasa menetap.
Merenung dalam duka
duka tak cacat

 

Kebahagiaan dalam benak
Negeri mentari dalam angan
Terlukis perih sempurna
mungkin cendana aroma kemenyan

 

serapah manis terteguk mentah
setapak rintih terjajaki
pelangi kelam menghias
sepanjang Setapak bertabur luka

 

Ilmu bak sampah
onggokan karang menjadi nisan tak bertuan
Rasa tak diajak,bukan sesaat
lapang tanah menggambar hati
Rambu,ini aku duka dalam tempayan

Kamis, 16 April 2015

Senja perlahan menghampiri raga.
menertawakan kesedihan hati.
Bukit-bukit cadas bergetar sendu
ilalang berdansa pilu.

kata-kata sederhana sering kita dengarkan.
bak lantunan nada dari Tukku yang tak bertuan.
Anamongu(gong) kini tak berdengung.
ana kiada matanggu pawanggu (anak gembala) merapatkan badan pada pohonan, memagut mesra kesedihan.

derai hujan tangis membasahi secarik kertas,
memusatkan hujat pada kata.
berang hati akan dakwaan
melapangkan dada akan keharusan

hari esok mungkin tak tertapaki bersama Cemara
karna Cemara telah dituliskan kisahnya
hanya lantunan mada-mada dalam safaat,
mengharap pelangi dalam genggaman

Tepian laut begitu luas,tapi tepian hati hanya secuil
menepikan semua biduk harap pada ajal
hingga habislah semua mahkota-ku saat daging beraroma tanah
kisah, kasih, harap dan sumpah akan abadi sebagai "CEMARA DI TEPIAN RASA".

dhayu
 Hari yang pernah dilalui dengan sebait kata suci, membawa sejuta harapan akan tempat kita bersama.

mungkin Tuhan akan menangis jika melihat rumahNya begitu reot.

lafalkan kata-kata suci nan indah,merangkak keluar dari dalam hati, seraya mengharapkan Sang Kuasa memperhatikan rumahNya.

lonceng pemanggilan, menghentakkan tebing di barat dan perbukitan di timur.
adakah rindu itu sejati?
adakah rindu itu dari lubuk jiwa?
ataukah rindu itu hanya rutinitas yang relatif???


Engkau Yang paling Mengerti suara di celah bebatuan cadas ini.
Bukan bangunan yang mencerminkan hati kami,,,tapi kerinduan kami adalah jawabnya.
 

Tiada guna ku mencari diriMu ya Raja di dalam rumah megah,sedangkan Kau telah hadir di rumah reot yang sudah ku jejaki di hari kemarin.



berperkaralah atas hati kami, dan tegurlah mereka ya Sang HAKIM AGUNG.
kerinduan ini menjadi mimpi yang dilarikan di belantara Sabana. di tanah yang dijuluki tanah para marapu
Malam ini, udara begitu menyengat..... menusuk hingga sukma.
Kulangkahkan kaki lebih jauh lagi ketengah kesepian tepian kota.
Kulihat beberapa gadis berdiri tepat disebelah kuda besi merah,,,,,,
bak jendral perang yang sedang termenung di-perbukitan dan hanya berteman dengan kakinya yang lain.
Kulihat dari dekat,,,, lebih dekat,,,,,, lebih dekat lagi........ ternyata mereka adalah mawar tak berduri yang terlabelkan.
Wanginya menggoda raga dan iman,,,,,,, senyumannya mencemari lamunku....
Sayang sejuta sayang..........
Kau hanyalah seorang gadis,,,,,, gadis yang dikalahkan hari dean dan masih menentang malam....
Wahai gadis penentang malam!!!!! Apakah ini  kenikmatan terlarang??? Ataukah ini dosa????
Mengapa kau biarkan tubuhmu tertindih malam??? Ataukah harga adalah hamba malam????
Gadis penentang malam,,, tersenyumlah..........
Masih kusimpan seteguk cinta murni tuk melepas dahagamu.... percayalah kata ini wahai gadis penantang malam

Rabu, 15 April 2015

Pahit!!! Pedis!!!!! Hambar!!!!!
Memerahkan hari  kelam.
Dimana mbola pahappa_mu anggu?
Hiruk pikuk yang mencurinya.
Dapat terhitung dengan jari jumlah kalumbut yang tersisa.
Bak wunnang kehilangan kalumbut saat hamayang. Itulah wajah tanah cendana ini......
Hari esok???????
Masih adakah kalumbut yang tersisa????
Masih,,,,,, masih ada.......
Dengarlah lantunan lagu sendu yang dimainkan lewat tukku tanpa tuan ini.
Hari ini begitu cepat berganti.
Peluh ini belum tersekat habis semua.
Satu-persatu tanyaku belum dapatkan jawab. Jawab dari para pemain.
Pemain di lapangan derita. Derita dari 1000 anak-anak tanah ini.

Dimanakah kan kudapatkan jawab itu?
Ku-susuri setapak cadas ini...
Karang dan hamparan rumput kering seperti menertawakan diri 
ini yang mencari arti dari perbuatan-mu

Apakah sangat berbeda keadilan yang kami pandang dan kau pandang?
Ataukah arti keadilan bagimu adalah memerah darah kami?
 Cemara,,,kasih ini masih tetap.
Kasih ini tak pernah menjadi relatif.
bahkan hujan dan terik mnegetahuinya.

duka bernafaskan rindu, dan rindu bernafaskan duka.
menjejaki tepian karang,mengalirkan kesedihan lewat luka.
begitu jauh langkah yang sudah terjadi, engkau masih tetap CEMARA tersayang.
hadiah dari duka yang sudah kita kecapi bersama kan tetap ku abadikan dalam kata
kata yang mungkin dilupakan dari setiap mereka yang membeci,dari setiap mereka yang menertawakan kita.
harus kuungkap rindu dalam doa.
harus kuungkap rasa dalam tingkah.
mungkin amarah telah jadi bagian dari kisah ini,tapi kasih adalah keintiman kita
mungkin senja berlalu terlalu perlahan
dan umur berlaluberlalu terlalu cepat
tapi kasih padamu CEMARA masih tetap dan takan mungkin berubah.
suatu hari nanti kita mungkin bersama hanya dalam mimpi.
dalam mimpi yang tertunda. mimpi kasih dipadu diatas tawa.
sang Pencipta tidak pernah membedakan nilai pada setiap raga.
hanya mereka yang memberikan nilai pada setiap jasad yang masih tetap bernafas tanpa harapan.
biarlah kasih dan kisah ini, hanya tetap untukmu wahai gadis "CEMARA" terkasih.
basodara samua,,,,kisah ini akan abadi dalam memori masing-masing... ceritakanlah kepada setiap mereka yang kalian temukan,,,bahwa alam ini mempunyai sejuta cerita dan keindahan yang disuguhkan bagai sirih pinang saat kita datang bertamu di tanah para marapu